Cerpen part 1
DUGGG!! Suara Aihan menutup pintu pagar yang terdengar dari kejauhan, ia bergegas menaiki motornya menuju cafe miliknya dengan kecepatan tinggi. Ia melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 06.55, waktu di mana ia harus menyiapkan segala keperluan di cafe.
Sudah sekitar sebulan lebih Aihan resign dari pekerjaannya sebagai Manager Research and Development di sebuah perusahaan di jakarta, dan baru saja ia mengganti profesinya itu dengan membuka cafe di ruko yang cukup dekat dengan kantor tempat bekerjanya dulu.
Sebenarnya ia resign dari pekerjaannya karena ia tak suka dengan para pimpinan perusahaan yang banyak di antara mereka mengonsumsi narkoba saat di ruang kerjanya, ia yakin bahwa perusahaan itu tak akan bisa menduduki puncak emas, ia khawatir perusahaan itu akan segera collapse, sehingga Aihan lebih memilih resign sebelum mendapat kabar buruk, bahkan ia juga di ancam ingin di bunuh jika ia membocorkan rahasia narkoba itu.
Sesampainya di cafe, ia segera memarkirkan motornya di tempat yang aman, Kawasaki Vulcan itu di rantai dan di gembok dengan aman. Lima pekerja cafe itu sudah lama menunggu Aihan untuk membuka pintu cafe. "Maaf sudah menunggu lama", ucap Aihan dengan tergesa-gesa membuka pintu cafe.
Ia membuka gemboknya, memutar kuncinya dan membuka pintunya.
BOOM!! Suara ledakan bersamaan dengan bersitan cahaya terang menghampiri dirinya, membuat Aihan jatuh tak sadarkan diri. Mobil polisi berdatangan diiringi ambulan, Aihan diangkat menuju ambulan dan di bawa ke rumah sakit. Untungnya kerusakan pada cafe tak begitu parah, hanya beberapa kaca yang pecah, meja dan kursi pelanggan yang rusak, namun tetap saja ledakkannya cukup begitu keras sehingga membuat beberapa orang terluka. Polisi segera olah TKP untuk menyelidiki kasus.
Setelah lima hari Aihan melewati masa kritisnya, akhirnya ia mulai sadar, matanya perlahan membuka dan melihat seseorang di hadapannya. Aihan terdiam dan membeku, matanya tak berkedip. "Aihan..., kamu sudah sadar?, dokter, dokter!!" Ucap orang itu dengan senyum gembiranya. "Mahira?" Bisik Aihan pada dirinya sendiri.
Aihan masih tertegun, tak percaya, gadis putih pucat beralis tebal itu ada di sini, sudah tiga tahun ia mencarinya setelah mendapatkan gelar cumlaude S-1nya di University of Hong Kong. Dokter berkacamata berkulit putih datang dan memeriksa Aihan.
"Kemungkinan 2 hari lagi jika kondisi pak Aihan sudah stabil, maka bapak diperbolehkan pulang, dan Ibu tolong pantau kondisi pak Aihan". Ucap dokter itu sambil menatap Aihan.
"Iya, terimakasih dokter Arman" jawab Aihan sambil membaca name tag yang dipakai dokter itu.
Baru beberapa menit ia sadar, namun ia sudah memikirkan hal yang berat-berat tentang cafe dan lainnya. Mungkin Mahira tahu tentang keadaan cafenya. "Mahira, bagaimana keadaan cafeku? Dan apakah perawatan rumah sakit ini sudah di tanggung asuransi?". Tanya Aihan dengan penasaran.
"Sudah itu tidak penting, yang penting sekarang kamu sehat dulu, urusan yang lain nanti saja setelah kamu sehat". Jawab Mahira dengan senyum manisnya.
"Tapi aku pengen tahu itu semua, itu urusanku". Tegas Aihan dengan sedikit keras.
"Baiklah, cafemu hanya rusak sedikit, rusaknya tak begitu parah, pekerja cafe hanya terluka sedikit dan asuransi kesehatanmu tidak bisa dicairkan, tapi tenang biayanya sudah ku tanggung". Balas Mahira dengan sedikit kecewa.
"selepas aku sembuh akan ku ganti semua biayanya". Seru Aihan
"gak usah, aku ikhlas" jawab mahira dengan tersenyum.
Bersambung....
Sudah sekitar sebulan lebih Aihan resign dari pekerjaannya sebagai Manager Research and Development di sebuah perusahaan di jakarta, dan baru saja ia mengganti profesinya itu dengan membuka cafe di ruko yang cukup dekat dengan kantor tempat bekerjanya dulu.
Sebenarnya ia resign dari pekerjaannya karena ia tak suka dengan para pimpinan perusahaan yang banyak di antara mereka mengonsumsi narkoba saat di ruang kerjanya, ia yakin bahwa perusahaan itu tak akan bisa menduduki puncak emas, ia khawatir perusahaan itu akan segera collapse, sehingga Aihan lebih memilih resign sebelum mendapat kabar buruk, bahkan ia juga di ancam ingin di bunuh jika ia membocorkan rahasia narkoba itu.
Sesampainya di cafe, ia segera memarkirkan motornya di tempat yang aman, Kawasaki Vulcan itu di rantai dan di gembok dengan aman. Lima pekerja cafe itu sudah lama menunggu Aihan untuk membuka pintu cafe. "Maaf sudah menunggu lama", ucap Aihan dengan tergesa-gesa membuka pintu cafe.
Ia membuka gemboknya, memutar kuncinya dan membuka pintunya.
BOOM!! Suara ledakan bersamaan dengan bersitan cahaya terang menghampiri dirinya, membuat Aihan jatuh tak sadarkan diri. Mobil polisi berdatangan diiringi ambulan, Aihan diangkat menuju ambulan dan di bawa ke rumah sakit. Untungnya kerusakan pada cafe tak begitu parah, hanya beberapa kaca yang pecah, meja dan kursi pelanggan yang rusak, namun tetap saja ledakkannya cukup begitu keras sehingga membuat beberapa orang terluka. Polisi segera olah TKP untuk menyelidiki kasus.
Setelah lima hari Aihan melewati masa kritisnya, akhirnya ia mulai sadar, matanya perlahan membuka dan melihat seseorang di hadapannya. Aihan terdiam dan membeku, matanya tak berkedip. "Aihan..., kamu sudah sadar?, dokter, dokter!!" Ucap orang itu dengan senyum gembiranya. "Mahira?" Bisik Aihan pada dirinya sendiri.
Aihan masih tertegun, tak percaya, gadis putih pucat beralis tebal itu ada di sini, sudah tiga tahun ia mencarinya setelah mendapatkan gelar cumlaude S-1nya di University of Hong Kong. Dokter berkacamata berkulit putih datang dan memeriksa Aihan.
"Kemungkinan 2 hari lagi jika kondisi pak Aihan sudah stabil, maka bapak diperbolehkan pulang, dan Ibu tolong pantau kondisi pak Aihan". Ucap dokter itu sambil menatap Aihan.
"Iya, terimakasih dokter Arman" jawab Aihan sambil membaca name tag yang dipakai dokter itu.
Baru beberapa menit ia sadar, namun ia sudah memikirkan hal yang berat-berat tentang cafe dan lainnya. Mungkin Mahira tahu tentang keadaan cafenya. "Mahira, bagaimana keadaan cafeku? Dan apakah perawatan rumah sakit ini sudah di tanggung asuransi?". Tanya Aihan dengan penasaran.
"Sudah itu tidak penting, yang penting sekarang kamu sehat dulu, urusan yang lain nanti saja setelah kamu sehat". Jawab Mahira dengan senyum manisnya.
"Tapi aku pengen tahu itu semua, itu urusanku". Tegas Aihan dengan sedikit keras.
"Baiklah, cafemu hanya rusak sedikit, rusaknya tak begitu parah, pekerja cafe hanya terluka sedikit dan asuransi kesehatanmu tidak bisa dicairkan, tapi tenang biayanya sudah ku tanggung". Balas Mahira dengan sedikit kecewa.
"selepas aku sembuh akan ku ganti semua biayanya". Seru Aihan
"gak usah, aku ikhlas" jawab mahira dengan tersenyum.
Bersambung....
Mau gua bikinin ilustrasinya ga hahahahah
BalasHapusUdh gw bikin
HapusBoleh saya tanya cerita ini inspirasi darimana?
BalasHapusmohon maaf cerita ini hanya fiksi belaka, tidak ada maksud untuk meniru kisah seseorang.
Hapus