Ketika Tuhan Menjawab
“Permisi, tok-tok, permisi pak”, Aihan tampak berusaha membuka pintu ruangan bosnya.
“Acep!!!, Acep ini ruangan pak bos dikunci ya?”, tanya Aihan kepada salah satu ob di kantor.
“Anu, masih dikunci pak, pak bosnya belum datang”, jawab Acep.
“Eh Aihan ada apa?”, tanya pak bos.
“Ada yang saya mau bicarakan sebentar pak”
“Oh iya, kita bicarakan di dalam saja, ayo silahkan masuk”, ucap pak bos sambil membuka ruangannya.
Ruangan yang cukup luas dengan sentuhan warna putih abu-abu yang membuat orang nyaman berlama-lama di dalamnya, namun Aihan berbeda dari yang lainnya, ia terlihat ingin segera keluar usai berbicara sedikit kepada atasannya.
“Begini pak, dengan keadaan saya yang sekarang, saya ingin resign pak, saya ingin mencari hal yang baru”, jelas Aihan.
“Lho kamu itu karyawan terbaik saya, kamu jangan resign, sebutkan apa mau mu?”, tanya bos.
“Maaf pak, yang saya mau suasana baru, saya juga mau fokos mencari jodoh, selama 2 tahun saya bekerja disini saya belum bertemu jodoh saya”, ungkap Aihan.
“Ini saya balikan laptop kantor, ini handphone, dan ini surat resign saya, permisi pak”, Aihan beranjak dari kursi dan langsung menuju luar kantor, hatinya terasa bebas dari tekanan dan beban kantor yang selama ini menghalangi dirinya untuk bebas.
Suara mesin motor yang berkapasitas 250 cc itu terdengar gagah di sore ini, Aihan tampak menikmati sore dengan berjalan-jalan mengelilingi ibukota, menyisiri jalan dengan santai, dan berteman dengan kemacetan ibukota yang tak pernah henti. Menikmati sore di atas jembatan dan melihat pemandangan sunset di tengah keramaian, jarang sekali Aihan bisa melihat pemandangan di sore hari, karena biasanya ia sibuk di kantor, berjam-jam menatap layar monitor, lembur, dan tidak teratur pulang ke apartemen.
Adzan maghrib berkumandang, Aihan segera mencari masjid untuk menunaikan shalat maghrib. Usai melaksanakan shalat maghrib, Aihan duduk di teras masjid dan memakai sepatu kulitnya, tak di sangka, ternyata ia bertemu dengan teman smanya dulu Mahira, ia berbincang sedikit bersama Mahira, perbincangan yang menuai rasa dan tawa itu pun berakhir, namun ada yang mengganjal di hati Aihan, karena dia belum sempat menanyakan soal pasangan, apakah Mahira sudah memiliki pasangan atau belum, sebenarnya Aihan merasa takut untuk menanyakan hal itu pada Mahira.
Aihan menghampiri salah satu cafe favoritnya untuk makan malam, Cafe Royer yang selalu setia di kunjungi Aihan setiap minggunya, cafe yang selalu membuat Aihan penasaran dengan lembaran post it yang ditempel di dinding cafe, sebab ia selalu menempel lembaran post it itu dan selalu ada saja yang membalasnya.
Makanan sudah datang, ia menyantap makanan sendiri diantara banyak kerumunan keluarga, dan yang bisa ia rasakan hanya iri, sebab Aihan kini hanya tinggal sendiri, ia hidup sebatang kara, dan tidak memiliki siapa pun lagi, yang ia inginkan sekarang hanyalah cepat-cepat menikah dan membentuk keluarga baru.
Jam sudah menunjukan pukul 03.45, Aihan mengelar sajadahnya dan melaksanakan shalat tahajud, selepas itu ia berdoa “Ya Allah, Ya Rabbi, jika seandainya aku jatuh cinta, jangan biarkan cintaku ini membuat lalai padamu, dan sekiranya aku jatuh cinta, jatuhkanlah hati ini pada seseorang yang mencintaiku karenamu, agar ada kekuatan lebih untuk mencintaimu, aamiin”. Adzan subuh berkumandang Aihan segera menuju masjid untuk melaksanakan shalat subuh.
Pagi ini Aihan mencari sarapan sambil jogging di sekitar lingkungan apartemen, bertemu banyak penghuni apartemen yang lainnya, selepas itu ia mandi dan segera mencari pekerjaan yang baru, meskipun ia belum tahu pekerjaan apa yang cocok untuknya selepas resign dari kantor.
Setelah dipikir-pikir Aihan memilih untuk berinvestasi, mengingat harta warisan yang ditinggalkan keluarganya begitu banyak dan ia dulunya adalah mantan manajer investasi di salah satu perusahaan ternama, maka ia putuskan bahwa hari ini ia harus mulai berinvestasi, pagi ini Aihan mencari saham terbaik untuk ia beli, Aihan kali ini ia membeli saham lewat online karena lebih mudah dibandingkan harus datang langsung ke kantor broker.
Suara mesin mobil mercedes benz c200 terdengar dengan halus, Aihan mengemudikan mobilnya menuju masjid Istiqlal Jakarta untuk menunaikan shalat jumat. Masjid seluas 9,5 hektar tersebut dipenuhi banyak jemaah, suara lantunan ayat suci terdengar merdu dan menambah kekhusyuan dalam shalat. Selepas shalat jumat, Aihan duduk bersandar, terlihat ada seorang bapak tua yang berada di sebelahnya, Aihan menengokan kepala ke arah samping, ia seperti mengingat-ingat, dan tak disangka ia bertemu dengan pak Zulfikar, dosen sewaktu ia kuliah.
“Pak Zulfikar, assalamu’alaikum pak, gimana pak kabarnya, sehat?”, tanya Aihan dengan wajah gembira.
“Alhamdulillah saya sehat, gimana kabar kamu Aihan, sudah berkeluarga?”, tanya pak Zulfikar, pertanyaan itu membuat Aihan malu, karena teman kuliahnya rata-rata sudah berkeluarga.
“Alhamdulilah sehat pak, saya masih mencari calon, hehehe”, ucap Aihan dengan sedikit malu.
“Kamu ada acara atau tidak setelah ini?”, tanya pak Zulfikar
“Tidak ada pak”, jawab Aihan.
“Kamu bisa mengantar saya pulang?”, tanya pak Zulfikar lagi.
“bisa pak, bisa”, jawab Aihan.
Aihan mengemudikan mobilnya menuju rumah pak Zulfikar sambil bercengkrama dengan pak Zulfikar. Sesampainya di rumah pak Zulfikar, ia di ajak makan bersama dengan pak Zulfikar, Dan Aihan terkejut, di rumah pak Zulfikar ternyata ada Mahira, ternyata Mahira adalah anak dari pak Zulfikar. Makan siang bersama pun telah usai.
“Saya berterima kasih pak, sudah di ajak makan bersama dengan keluarga bapak, makanannya juga enak sekali, saya juga menjad tahu kalau Mahira anak bapak”, ucap Aihan.
“Sama-sama Aihan, ternyata kalian berdua sudah saling mengenal, sebenarnya saya ingin menjodohkan kalian berdua, apakah kalian mau, bersedia?” tanya pak Zulfikar, Aihan seketika terkejut dan berkata.
“Mauuu” ucap Aihan dan Mahira bersamaan.
Semua pun tertawa dengan kekompakan Mahira dan Aihan, perbincangan di meja makan dilanjut dengan perbincangan di ruang tamu, perbincangan berubah dengan tema persiapan pernikahan. Pernikahan akan di gelar satu minggu kemudian, persiapan acara pernikahan akan segera disiapkan.
Tiga hari kemudian Aihan berkunjung ke kediaman pak Zulfikar untuk menjemput keluarganya menuju toko pakaian pengantin, toko dengan berbagai pakaian dan gaun pengantin yang elegan, semuanya lengkap dan terlihat menarik, hingga tak terasa sudah berjam-jam berada di toko tersebut. Barang pun sudah terbeli, waktunya ia mengantarkan pak Zulfikar kembali ke rumahnya.
Hari berganti hari, sudah waktunya ia memiliki pasangan hidup dan mati, sudah waktunya ia mempunyai keluarga baru. Pernikahaan ini di dilakukan secara sederhana, dihadiri oleh kerabat dan teman dekat. Saksi nikah sudah datang, petugas KUA juga sudah datang, sudah waktunya acara nikah dilangsungkan.
“bismillah hirahmanirahim, saya nikahkan Aihan....”
Pernikahan berlangsung syahdu, membuat semuanya terharu dan kini mereka telah bersatu dalam ikatan suci dengan cinta ilahi, semuanya bahagia dan bersenang ria.
TAMAT
Komentar
Posting Komentar